Tegas akan diri sendiri, buang pikiran negatif dan lakukan yang baik. Kegelisahan hanya milik mereka yang putus asa

Sate Gabus Jadi Warisan Kuliner Pati


SATE GABUS : Rumisih menunjukan sate buatannya yang setengah matang kemarin.
 

PATI – Di usia yang sudah tidak lagi muda, Rumisih (60) masih semangat untuk berjualan sate. Menurutnya menjual sate bukan mencari keutungan semata, namun baginya itu cara dirinya menjaga tradisi warisan kuliner dari ayahnya yang asli Gabus Pati.

Warung Sate yang berada di Desa Gabus RT 5 RW 4 yang letaknya di depan Pasar Gabus Pati itu, diberi nama Omah Sate Pak Taman. Sebab  warung Sate itu dulunya milik Pak Taman yang tidak lain ayah kandung Rumisih.

Bakatnya meracik bumbu sate tidak diragukan lagi, ia belajar sejak masih usia 17 tahun saat dirinya sering membantu ayahnya berjualan sejak 1950. Dari bekal itu dirinya memiliki semangat yang membara, untuk terus melanjutkan usaha sate kambing, setelah ayahnya meninggal.

“Sepeninggal ayah, sayang kalau usaha jualan sate tidak dilanjutkan. Apalagi usaha Omah Sate Pak Taman sudah memiliki banyak pelanggan tetap, hal itu juga yang membuat saya termotivasi meneruskan usaha,”ungkapnya.

Menurut putri bungsu dari enam bersaudara ini, ada sejumlah hal yang harus ia pertahankan dalam menjaga tradisi kuliner sate kambing di Gabus. Pertama, persoalan usaha. Pak Taman sudah membekalinya dengan resep dan bumbu rahasia untuk menghasilkan olahan daging kambing yang berkualitas.Kedua, ikut nguri-uri dan melestarikan wisata kuliner di Pati yang masih mendasarkan pada rasa tempo dulu.

"Dari usia 17 tahun ikut bantu bapak, bumbu dan resepnya masih sama dengan yang sekarang. Melanjutkan usaha ini berarti ikut melestarikan kuliner tempo dulu,"terangnya.

Lebih lanjut, usahanya selama ini berhasil memesarkan empat anaknya. Mereka ada yang menjadi pengusaha hingga ahli kesehatan. Beragam alasan itu yang membuat Rumisih tidak ingin usahanya putus di generasi ketiga dalam keluarganya.

Terlebih, hingga saat ini Omah Sate Pak Taman tak hanya dikenal penikmat kuliner dari wilayah Pati saja, tapi sudah sampai diluar daerah seperti Kudus, Grobogan, Jakarta, Surabaya, hingga Sumatera. Pengusaha yang ingin berjualan Omah Sate Pak Taman secara franchise pun banyak, tetapi ia tolak karena tidak memiliki tenaga kerja untuk melatih.

“Untuk menjaga kualitas sate, sate selalu dibakar dengan mengunakan arang pilihan. Dan pembakarannya juga harus pas, agar rasanya bisa gurih, lezat, kenyal dan legit,”ucapnya.

Dia juga berharap, salah satu dari empat anaknya bisa melanjutkan usahanya sebagai upaya untuk melestarikan warisan usaha kuliner sate di Gabus. Rumisih tidak ingin jualan satenya terputus di generasi ketiga.

"Saya generasi kedua. Saya sudah mulai memasuki masa tua. Eman kalau anak-anak saya tidak melanjutkan usaha warisan dari keluarga secara turun temurun. Ini juga bisa nguri-uri wisata kuliner di Pati," tuturnya.

Dia berharap, Omah Sate Pak Taman tetap lestari dan tidak lekang oleh zaman demi melayani para penikmat sate. Dia ingin suasana yang sama, melayani penikmat sate dari pukul 07.00 WIB sampai 21.00 WIB. Suasana menusuk seribu sate setiap harinya juga tidak ingin lepas dari ingatan Rumisih, pelestari tradisi sate kambing sejak 1950. (HP/FN/MK)

0 Komentar

    Tambah Komentar