Tegas akan diri sendiri, buang pikiran negatif dan lakukan yang baik. Kegelisahan hanya milik mereka yang putus asa

Cegah Banjir, Pembutan Talud Desa Sitirejo Dikebut


BEKERJA : Sejumlah warga sedang membuat talud di RT 4 RW II Desa Sitirejo, Tambakromo kemarin.
 

TAMBAKROMO – Pemerintah Desa Sitirejo sedang sibuknya membuat talud di wilayahnya. Terlihat sudah ada dua RT yang sedang dikerjakan pembuatan taludnya, yakni RT 1 dan 4 RW II. Alokasi anggaran yang digunakan berasal dari dana aspirasi sebesar Rp 150 juta. 

Jenggot, kepala Dusun Sitirejo mengatakan, pada Mei ini pemdes membuat talud di RT 1 RW II sepanjang 24 meter dengan tinggi 140 dan lebar 30 sentimeter. ”Alhamdulilah talud bagian Barat jalan sudah selesai. Sementara bagian Timur sudah dibuat pada 2016 lalu,” paparnya kemarin.

Dilanjutkan, pembuatan talud juga dilakukan di RT 4. Rencananya, talud ini nantinya akan dibangun sepanjang 283 meter, lebar 30 dan tinggi 80 sentimeter. Talud bagian Selatan jalan dari arah Desa Mojomulyo.

Untuk talud yang ada di sini pengerjaannya lebih sulit. Sebab, sebelum harus berunding dahulu dengan warga karena melewati jalan masuk bangunan. ”Untuk depan selepan, kami harus hancurkan dulu material bangunan, baru dicangkul sampai rata. Setelah itu, talud baru bisa dikerjakan,” paparnya.

Ditambahkan, talud itu akan dibuatnya sebagus mungkin. Supaya bisa kuat dan tahan lama. Sebab, pernah ada pembuatan talud dari dinas justru hasilnya kurang bagus. Bahkan belum ada sebulan sudah rusak. ”Pengerjaan talud dari warga itu justru lebih bagus. Sebab, warga yang membuat talu itu kuli bangunan yang sudah pengalaman dalam membuat bangunan,” terangnya.

Darsono, kepala Desa Sitirejo mengatakan, pembuatan talud ini dianggarkan dana aspirasi salah satu anggota DPRD Pati sebesar Rp 150 juta. Pembuatan talud ini atas permintaan warga yang ingin ada drainase. Sebab, air yang ada di bahu jalan biasanya naik ke jalan. 

Saai ini, pemerintah desa lebih memilih menggunakan pekerja dari warga sekitar. Sebab, desa sudah memiliki banyak pemborong dan kuli bangunan. Jadi, tak perlu tenaga dari luar. ”Warga biar mengetahui proses pembuatannya dan merawatnya. Utamanya untuk mempertahankan kembali gotong-royong antar warga sekitar. Kurang lebih masih ada enam titik. Diharapkan setelah Lebaran bisa selesai,” harapnya. (HP/HP/MK)

0 Komentar

    Tambah Komentar